Rabu, 04 November 2009

BLUES


tak ada seorang pun di ruangan temaram ini
yang memiliki wajah muram paling sempurna
selain parasmu yang berpias warna ungu

waktu seakan berhenti saat mataku menelusuri
milikmu yang binarnya begitu redup,
hidung meruncing congkak,
bibir kering mengatup dan jerawat
yang membatu di sela kernyitan dahi.
aku bahkan bisa melihat sebuah luka
jauh di kedalaman jiwamu

tak ada satu pun yang mampu mengusikmu
entah itu suara gaduh gelas pecah,
derai tawa laki-laki berperut buncit
atau bisik-bisik kumpulan perempuan berbedak tebal
kau begitu tenang dengan dengan segelas bir dalam genggaman.

perlahan aku memperpendek jarak
hingga aroma asing tubuhmu pun tercium.
“sepertinya hari ini aku akan mati,”
begitu ucapmu sambil merebahkan kepala di pundakku.
seolah ini bukan kali pertama kita bertemu,
aku merasa begitu dekat denganmu.

seorang musisi blues berusaha membunuhku
dengan rintihan syahdu petikan gitarnya
bukan Clapton ataupun Berry
tapi aku begitu menikmatinya.
bahkan alunan musik terus terngiang
saat kedua kakiku coba menyesuaikan
derap langkah tergesa milikmu
menjauh dari keramaian.

dan rembulan pucat hanya diam bergelayut
pada langit yang serupa selimut kusut.
malam tak lagi sesunyi biasanya
desahmu menjelma rangkaian nada minor
kian memuncak dalam setiap cabikan tanganku

punggung kurusmu kerap bergetar
seakan begitu lelah menanggung nasib.
telingaku menjelma sebuah harmonika berkat permainan nafasmu,
tubuhku adalah tuts piano untuk kelincahan jemarimu.
kau dan aku tenggelam dalam keterasingan
menikmati alunan musik paling emosional

setelah usai, tak ada lagi yang tersisa
hanya ada ruang kosong di antara tubuh kita.
malam berlalu tanpa tanpa meninggalkan jejak
seperti kenangan yang tak ingin terangkaikan.

maka aku memutuskan untuk tetap terjaga
sampai nanti pagi datang
dan membawamu pergi.

D. Zulkarnain
3 November 2009, 02:37
Kemanggisan

0 komentar:

Posting Komentar