Jumat malam tanggal 16 Oktober kemarin saya menghabiskan waktu bersama Retta, salah seorang teman kantor. Awalnya kami bermaksud pergi ke beberapa tempat: kelapa Gading, Sheraton Hotel Media & Tower dan X2. Tapi ternyata acara di Sheraton dibatalkan karena sang penggagas acara, Mas Bambang (Marketing & Communication Manager hotel itu), tiba-tiba harus menghadiri sebuah acara yang mendadak. Akhirnya setelah bertemu dengan kliennya Retta di daerah Kelapa Gading, kami memutuskan untuk mencari makan di daerah Cikini. Sebuah warung makan lesehan di daerah Cikini kemudian menjadi tempat pemberhentian kami selanjutnya. Retta yang sedang kelaparan waktu itu memesan ayam bakar, sedangkan saya hanya memesan es teh manis saja. Sambil makan dan minum, kami pun membicarakan tentang banyak hal. Dari pembicaraan tentang karir, curhat kehidupan percintaan hingga masalah yang ada di kantor, semuanya menjadi bahan perbincangan kami.
Setelah selesai makan dan minum di warung makan lesehan itu kami kemudian beranjak ke Mcdonald yang ada di depan stasiun Cikini. Sambil menyantap dua gelas "Sundae" rasa strawberry, saya dan Retta kembali mengobrol tentang berbagai topik. Tiba-tiba saya mengajukan sebuah pertanyaan pada Retta, "Ret, pernah gak lo ngerasa kalo yang kita dapetin itu terkadang bukan 'the one' tapi the 'last one'?". si "ibu remponk" pun berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan itu. "Trus gimana kalo nanti lo mendapatkan pasangan hidup yang sebenarnya bukan 'The one' tapi 'The Only One'?". setelah berpikir sesaat, retta pun menyatakan kalau dirinya akan terus menunggu datangnya 'The One' dalam hidupnya itu. setelah sempat terdiam saya tiba-tiba mengeluarkan keluhan yang ditujukan kepada diri sendiri, "Kenapa yah gw itu selalu mendapatkan seseorang yang tidak sesuai dengan harapan". Mendengar keluhan itu, Retta kemudian mengoreksi kata-kata saya dengan sebuah pernyataan miliknya: "Yang elo dapetin itu terkadang lebih dari apa yang lo pikirkan". saya sedikit terhenyak mendengarkan pernyataan Retta. Dan hingga beberapa waktu kemudian kata-kata itu terus menghantui benak saya.
Beranjak dari Cikini, saya dan Retta langsung menuju X2 yang terletak di daerah Senayan. walaupun hanya berdua, kami bertekad untuk bersenang-senang malam itu. Kami kemudian menikmati dentuman musik R&B di Equinox. Berteman sebotol Heineken dan Mild rasa mentol, kami kembali asyik berbincang tentang berbagai hal sambil sesekali bergoyang mengikuti irama musik. Tapi pikiran saya masih dihantui oleh pernyataan Retta sebelumnya. Pikiran saya kemudian mengembara hingga beberapa waktu silam. Mengenang kembali betapa pahitnya kenyataan bahwa segala yang saya dapatkan terkadang tak sesuai dengan keinginan. Saya terkadang menganggap kenyataan pahit itu adalah sebuah kegagalan. begitu juga dengan kehidupan percintaan, kegagalan bukan hal yang baru bagi saya. Orang-orang datang silih berganti terbawa arus waktu, tapi terkadang saya masih terdiam terpaku pada tempat yang sama. Sebuah pesimisme kemudian menumbuhkan sebuah pertanyaan yang selalu muncul di dalam benak saya, "Apakah mungkin saya akan menemukan 'The One' yang akan menjadi pasangan hidup saya?". Apakah akhirnya saya harus berkompromi dengan menjadikan "The Only One" sebagai pasangan hidup nanti? Sampai kapan saya akan terus menanti kedatangan 'The One' itu?
Duduk terdiam mendengarkan hingar-bingar musik dengan menghisap dua batang Mild mentol dan menyesap sebotol Heineken, saya merasakan sebuah kedamaian. Sungguh kombinasi hal aneh yang bisa menciptakan perasaan damai. Kemudian saya menyadari bahwa usia saya masih 23 tahun. Entah mengapa saya harus pusing memikirkan tentang jodoh. Sepertinya perasaan ketakutan itu merupakan akumulasi dari kejombloan selama hampir setahun lebih ini. Saya liat juga keadaan sekeliling, orang-orang dengan beragam rupa telah memenuhi Equinox. di antara orang-orang itu banyak juga yang "lucu". tiba-tiba saya teringat akan pernyataan seorang teman saya: "masih banyak ikan di laut, tinggal kita mesti pinter-pinter aja mancingnya, Dick". Lupakan konsep tentang betapa sulitnya mencari 'The One', bukankah yang bisa meyakinkan kita bahwa dia 'The One' apa bukan itu adalah sebuah pengalaman. Dan pengalaman itu memang tak semuanya manis, tapi bukankah pengalaman sepahit apapun bisa menjadikan kita dewasa.
Senin, 19 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar