Senin, 19 Oktober 2009

The (only) One

Jumat malam tanggal 16 Oktober kemarin saya menghabiskan waktu bersama Retta, salah seorang teman kantor. Awalnya kami bermaksud pergi ke beberapa tempat: kelapa Gading, Sheraton Hotel Media & Tower dan X2. Tapi ternyata acara di Sheraton dibatalkan karena sang penggagas acara, Mas Bambang (Marketing & Communication Manager hotel itu), tiba-tiba harus menghadiri sebuah acara yang mendadak. Akhirnya setelah bertemu dengan kliennya Retta di daerah Kelapa Gading, kami memutuskan untuk mencari makan di daerah Cikini. Sebuah warung makan lesehan di daerah Cikini kemudian menjadi tempat pemberhentian kami selanjutnya. Retta yang sedang kelaparan waktu itu memesan ayam bakar, sedangkan saya hanya memesan es teh manis saja. Sambil makan dan minum, kami pun membicarakan tentang banyak hal. Dari pembicaraan tentang karir, curhat kehidupan percintaan hingga masalah yang ada di kantor, semuanya menjadi bahan perbincangan kami.
Setelah selesai makan dan minum di warung makan lesehan itu kami kemudian beranjak ke Mcdonald yang ada di depan stasiun Cikini. Sambil menyantap dua gelas "Sundae" rasa strawberry, saya dan Retta kembali mengobrol tentang berbagai topik. Tiba-tiba saya mengajukan sebuah pertanyaan pada Retta, "Ret, pernah gak lo ngerasa kalo yang kita dapetin itu terkadang bukan 'the one' tapi the 'last one'?". si "ibu remponk" pun berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan itu. "Trus gimana kalo nanti lo mendapatkan pasangan hidup yang sebenarnya bukan 'The one' tapi 'The Only One'?". setelah berpikir sesaat, retta pun menyatakan kalau dirinya akan terus menunggu datangnya 'The One' dalam hidupnya itu. setelah sempat terdiam saya tiba-tiba mengeluarkan keluhan yang ditujukan kepada diri sendiri, "Kenapa yah gw itu selalu mendapatkan seseorang yang tidak sesuai dengan harapan". Mendengar keluhan itu, Retta kemudian mengoreksi kata-kata saya dengan sebuah pernyataan miliknya: "Yang elo dapetin itu terkadang lebih dari apa yang lo pikirkan". saya sedikit terhenyak mendengarkan pernyataan Retta. Dan hingga beberapa waktu kemudian kata-kata itu terus menghantui benak saya.
Beranjak dari Cikini, saya dan Retta langsung menuju X2 yang terletak di daerah Senayan. walaupun hanya berdua, kami bertekad untuk bersenang-senang malam itu. Kami kemudian menikmati dentuman musik R&B di Equinox. Berteman sebotol Heineken dan Mild rasa mentol, kami kembali asyik berbincang tentang berbagai hal sambil sesekali bergoyang mengikuti irama musik. Tapi pikiran saya masih dihantui oleh pernyataan Retta sebelumnya. Pikiran saya kemudian mengembara hingga beberapa waktu silam. Mengenang kembali betapa pahitnya kenyataan bahwa segala yang saya dapatkan terkadang tak sesuai dengan keinginan. Saya terkadang menganggap kenyataan pahit itu adalah sebuah kegagalan. begitu juga dengan kehidupan percintaan, kegagalan bukan hal yang baru bagi saya. Orang-orang datang silih berganti terbawa arus waktu, tapi terkadang saya masih terdiam terpaku pada tempat yang sama. Sebuah pesimisme kemudian menumbuhkan sebuah pertanyaan yang selalu muncul di dalam benak saya, "Apakah mungkin saya akan menemukan 'The One' yang akan menjadi pasangan hidup saya?". Apakah akhirnya saya harus berkompromi dengan menjadikan "The Only One" sebagai pasangan hidup nanti? Sampai kapan saya akan terus menanti kedatangan 'The One' itu?
Duduk terdiam mendengarkan hingar-bingar musik dengan menghisap dua batang Mild mentol dan menyesap sebotol Heineken, saya merasakan sebuah kedamaian. Sungguh kombinasi hal aneh yang bisa menciptakan perasaan damai. Kemudian saya menyadari bahwa usia saya masih 23 tahun. Entah mengapa saya harus pusing memikirkan tentang jodoh. Sepertinya perasaan ketakutan itu merupakan akumulasi dari kejombloan selama hampir setahun lebih ini. Saya liat juga keadaan sekeliling, orang-orang dengan beragam rupa telah memenuhi Equinox. di antara orang-orang itu banyak juga yang "lucu". tiba-tiba saya teringat akan pernyataan seorang teman saya: "masih banyak ikan di laut, tinggal kita mesti pinter-pinter aja mancingnya, Dick". Lupakan konsep tentang betapa sulitnya mencari 'The One', bukankah yang bisa meyakinkan kita bahwa dia 'The One' apa bukan itu adalah sebuah pengalaman. Dan pengalaman itu memang tak semuanya manis, tapi bukankah pengalaman sepahit apapun bisa menjadikan kita dewasa.

Kamis, 15 Oktober 2009

TRAGEDI 30 SEPTEMBER


Sore hari pada tanggal 30 September 2009, Sumatera Barat diguncang oleh sebuah gempa berkekuatan 7.6 skala richter. Tercatat ratusan jiwa menjadi korban keganasan gempa. Banyak rumah, gedung dan infrastruktur lainnya banyak yang hancur dan mengalami kerusakan parah. Kerugian diperkirakan mencapai kisaran triliunan rupiah.
Keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 2009, ratusan anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 menjalani proses pelantikan. Konon, prosesi pelantikan ini memakan biaya yang tak sedikit. Menurut beberapa penyelidikan media, kegiatan prosesi ini dikabarkan melalui penganggaran tiga lembaga negara yang jumlahnya mencapai lebih dari 40 miliar rupiah. Sungguh merupakan suatu keanehan bila tiga lembaga negara bisa menganggarkan keuangannya untuk satu acara yang memiliki substansi yang sama. Hal ini bisa dikatakan sebagai bentuk korupsi, karena ada penyalahgunaan kekuasaan dengan menggunakan dana secara berlebihan.
Beberapa tahun silam, tepatnya malam tanggal 30 september 1965, Indonesia mengalami tragedi kemanusiaan dengan terbunuhnya beberapa orang jenderal Angkatan Darat. PKI (Partai Komunis Indonesia) diduga menjadi dalang utama peristiwa itu. dugaan itu semakin dilegitimasi dengan berbagai cap “PKI” pada banyak hal yang berkaitan dengan tragedi 30 September itu. padahal pada saat sekarang ini, peristiwa pemberontakan PKI itu banyak diragukan keabsahannya oleh para peneliti dan sejarawan.
Beberapa waktu kemudian setelah peristiwa itu, Indonesia mengalami perubahan. Orde baru dimulai dengan dikukuhkannya Soeharto dan pelengseran Soekarno. Menyusul setelah itu, berbagai peristiwa pembantaian yang mengatasnamakan aksi pemberantasan oknum PKI terjadi di berbagai daerah di Nusantara. Banyak korban berjatuhan, bahkan hingga saat ini keturunan dari korban itu banyak yang masih mendapatkan perlakuan tak adil karena label “PKI” tersebut. Tapi pemerintah pada masa itu tak peduli. Yang penting tonggak kekuasaan baru berhasil ditanamkan, dan pengaruhnya berhasil menguasai rakyat.
Pernah terjadi dua kali tragedi yang berlangsung pada tanggal 30 september. Dan keduanya memiliki hubungan dengan negara. pada tragedi kemanusiaan berapa tahun silam, kita bisa melihat betapa rakyat menjadi korban dari sebuah perebutan kekuasaan. Korban berjatuhan karena sebuah perpanjangan polemik politik yang sarat dengan berbagai kepentingan. Tragedi 30 September 2009 lalu adalah sebuah bencana alam. Tapi kita bisa melihat bagaimana apatisme negara dan aparatur pemerintahan terbarunya dalam menyikapi peristiwa itu. lalu apa yang terjadi bila Negara tak bisa melindungi dan menomersatukan rakyatnya? Mungkin akan terjadi sebuah tragedi 30 September ketiga saat rakyat akan mengkhianati negaranya sendiri. Saya harap hal itu tak akan pernah terjadi.

Kamis, 01 Oktober 2009

Like A Virgin

Akhirnya saya punya account "blogger"! Ini memang bukan blog pertama saya. Sebelumnya saya juga pernah memuat tulisan-tulisan saya di situs jejaring sosial yang memiliki fitur blog, seperti Friendster dan Facebook. Akan tetapi, "lelaki-urban.blogspot.com" memang sebuah account milik saya yang pertama di sebuah situs blog.
Mengapa akhirnya saya memutuskan untuk membuat account di sebuah di sebuah situs blog? pertama, karena saya suka menulis. Dengan adanya blog ini, saya berharap dapat lebih terpacu untuk mempelajari lebih dalam dunia penulisan. Kedua, faktor idealisme yang kurang tersalurkan. Saya memang bekerja sebagai seorang penulis di sebuah majalah, tapi terkadang ada beberapa tulisan yang tak bisa dimasukkan disitu. Maka lewat blog ini saya ingin memuat dengan bebas berbagai jenis tulisan saya demi sebuah kepuasan pribadi.
Mengapa blog ini diberi nama "Lelaki Urban"? uhmm..sejujurnya saya juga bingung bila harus menjawab pertanyaan ini. Entahlah, nama "Lelaki Urban" tercetus begitu saja di pikiran saat melakukan registrasi di situs ini. Tetapi bila harus memberikan sebuah penjelasan secara logis, nama "Lalaki Urban" bisa juga dikaitkan dengan latar belakang penulisnya. saya memang kelahiran Jakarta dan sudah 23 tahun menjalani kehidupan di kota megapolitan itu. maka bukanlah sebuah hal yang aneh bila akhirnya blog ini diberi nama "Lelaki Urban". Lagipula, nama "Lelaki Metroseksual" atau "Lelaki Cadangan" cukup aneh juga bila harus dipakai sebagai nama blog.
Judul postingan pertamanya, "Like A Virgin", berkaitan dengan cerita kemunculan blog ini. Seperti yang dijelaskan di paragraf pembuka, ini memang bukan blog pertama saya, tapi lewat tulisan pertama inilah saya mengawali kehidupan "Lelaki Urban". Dan rasanya senang yang didapatkan ternyata tak kalah dengan saat pertama menulis blog di Friendster dulu. lagipula saya juga seorang penggemar Madonna dan "Like A Virgin" merupakan salah satu lagunya yang saya suka. Menggunakan kata "virgin" tidak bermaksud menandakan bahwa saya adalah seseorang yang mengagungkan "virginitas" atau "keperawanan". Tidak! Saya bahkan masih mempertanyakan tentang konsep "keperawanan" itu sendiri.
Konsep "keperawanan" adalah salah satu produk kebudayaan patriakal. merupakan suatu keanehan bagi saya melihat perempuan dihargai hanya lewat bentuk dan keadaan organ tubuhnya semata. Padahal organ yang menunjukkan status keperawanan seorang perempuan, yaitu selaput dara, sangat rentan mengalami kerusakan yang disebabkan tak hanya kegiatan bercinta saja. Selapu dara bisa saja robek akibat kegiatan olahraga ataupun kecelakaan. Tetapi yang ada dipikiran orang-orang hanyalah dugaan negatif yang berujung pada sebuah penilaian moral. Perempuan yang tidak perawan sebelum menikah dianggap amoral. Padahal keperawanan merupakan bagian dari tubuh perempuan. Tubuh perempuan sebagaimana halnya entitas “diri” manusia tentu mendapatkan perlindungan untuk kebebasannya. Perempuan sesungguhnya bebas menentukan otonomi tubuhnya tanpa mendapatkan perlakuan yang diskriminatif.
Bila orang-orang kerap membicarakan tentang “keperawanan”, seharusnya mereka juga tak lupa untuk membicarakan masalah “keperjakaan”. Bukankah gender juga memiliki sifat relasional? Bila perempuan mendapatkan penilaian dirinya lewat selaput dara, laki-laki harusnya juga dikenakan perlakuan serupa. Sayangnya, laki-laki tidak memiliki selaput penis. Jadi tidak dapat diketahui status keperjakaannya. Kalau mereka memiliki selaput penis, pasti selaputnya itu sudah rusak sebelum ia menikah. Dan kerusakan itu mungkin saja terjadi dengan kesadaran penuh sang pemilik, “keperjakaan” hilang oleh tangan kanannya (atau tangan kiri, bila si lelaki kidal).

Lelaki Urban singin' a song: "Like a virgin...Touched for the very first time...Like a virgin..when your heart beats...next to mine"