Akhirnya saya punya account "blogger"! Ini memang bukan blog pertama saya. Sebelumnya saya juga pernah memuat tulisan-tulisan saya di situs jejaring sosial yang memiliki fitur blog, seperti Friendster dan Facebook. Akan tetapi, "lelaki-urban.blogspot.com" memang sebuah account milik saya yang pertama di sebuah situs blog.
Mengapa akhirnya saya memutuskan untuk membuat account di sebuah di sebuah situs blog? pertama, karena saya suka menulis. Dengan adanya blog ini, saya berharap dapat lebih terpacu untuk mempelajari lebih dalam dunia penulisan. Kedua, faktor idealisme yang kurang tersalurkan. Saya memang bekerja sebagai seorang penulis di sebuah majalah, tapi terkadang ada beberapa tulisan yang tak bisa dimasukkan disitu. Maka lewat blog ini saya ingin memuat dengan bebas berbagai jenis tulisan saya demi sebuah kepuasan pribadi.
Mengapa blog ini diberi nama "Lelaki Urban"? uhmm..sejujurnya saya juga bingung bila harus menjawab pertanyaan ini. Entahlah, nama "Lelaki Urban" tercetus begitu saja di pikiran saat melakukan registrasi di situs ini. Tetapi bila harus memberikan sebuah penjelasan secara logis, nama "Lalaki Urban" bisa juga dikaitkan dengan latar belakang penulisnya. saya memang kelahiran Jakarta dan sudah 23 tahun menjalani kehidupan di kota megapolitan itu. maka bukanlah sebuah hal yang aneh bila akhirnya blog ini diberi nama "Lelaki Urban". Lagipula, nama "Lelaki Metroseksual" atau "Lelaki Cadangan" cukup aneh juga bila harus dipakai sebagai nama blog.
Judul postingan pertamanya, "Like A Virgin", berkaitan dengan cerita kemunculan blog ini. Seperti yang dijelaskan di paragraf pembuka, ini memang bukan blog pertama saya, tapi lewat tulisan pertama inilah saya mengawali kehidupan "Lelaki Urban". Dan rasanya senang yang didapatkan ternyata tak kalah dengan saat pertama menulis blog di Friendster dulu. lagipula saya juga seorang penggemar Madonna dan "Like A Virgin" merupakan salah satu lagunya yang saya suka. Menggunakan kata "virgin" tidak bermaksud menandakan bahwa saya adalah seseorang yang mengagungkan "virginitas" atau "keperawanan". Tidak! Saya bahkan masih mempertanyakan tentang konsep "keperawanan" itu sendiri.
Konsep "keperawanan" adalah salah satu produk kebudayaan patriakal. merupakan suatu keanehan bagi saya melihat perempuan dihargai hanya lewat bentuk dan keadaan organ tubuhnya semata. Padahal organ yang menunjukkan status keperawanan seorang perempuan, yaitu selaput dara, sangat rentan mengalami kerusakan yang disebabkan tak hanya kegiatan bercinta saja. Selapu dara bisa saja robek akibat kegiatan olahraga ataupun kecelakaan. Tetapi yang ada dipikiran orang-orang hanyalah dugaan negatif yang berujung pada sebuah penilaian moral. Perempuan yang tidak perawan sebelum menikah dianggap amoral. Padahal keperawanan merupakan bagian dari tubuh perempuan. Tubuh perempuan sebagaimana halnya entitas “diri” manusia tentu mendapatkan perlindungan untuk kebebasannya. Perempuan sesungguhnya bebas menentukan otonomi tubuhnya tanpa mendapatkan perlakuan yang diskriminatif.
Bila orang-orang kerap membicarakan tentang “keperawanan”, seharusnya mereka juga tak lupa untuk membicarakan masalah “keperjakaan”. Bukankah gender juga memiliki sifat relasional? Bila perempuan mendapatkan penilaian dirinya lewat selaput dara, laki-laki harusnya juga dikenakan perlakuan serupa. Sayangnya, laki-laki tidak memiliki selaput penis. Jadi tidak dapat diketahui status keperjakaannya. Kalau mereka memiliki selaput penis, pasti selaputnya itu sudah rusak sebelum ia menikah. Dan kerusakan itu mungkin saja terjadi dengan kesadaran penuh sang pemilik, “keperjakaan” hilang oleh tangan kanannya (atau tangan kiri, bila si lelaki kidal).
Lelaki Urban singin' a song: "Like a virgin...Touched for the very first time...Like a virgin..when your heart beats...next to mine"
Mengapa akhirnya saya memutuskan untuk membuat account di sebuah di sebuah situs blog? pertama, karena saya suka menulis. Dengan adanya blog ini, saya berharap dapat lebih terpacu untuk mempelajari lebih dalam dunia penulisan. Kedua, faktor idealisme yang kurang tersalurkan. Saya memang bekerja sebagai seorang penulis di sebuah majalah, tapi terkadang ada beberapa tulisan yang tak bisa dimasukkan disitu. Maka lewat blog ini saya ingin memuat dengan bebas berbagai jenis tulisan saya demi sebuah kepuasan pribadi.
Mengapa blog ini diberi nama "Lelaki Urban"? uhmm..sejujurnya saya juga bingung bila harus menjawab pertanyaan ini. Entahlah, nama "Lelaki Urban" tercetus begitu saja di pikiran saat melakukan registrasi di situs ini. Tetapi bila harus memberikan sebuah penjelasan secara logis, nama "Lalaki Urban" bisa juga dikaitkan dengan latar belakang penulisnya. saya memang kelahiran Jakarta dan sudah 23 tahun menjalani kehidupan di kota megapolitan itu. maka bukanlah sebuah hal yang aneh bila akhirnya blog ini diberi nama "Lelaki Urban". Lagipula, nama "Lelaki Metroseksual" atau "Lelaki Cadangan" cukup aneh juga bila harus dipakai sebagai nama blog.
Judul postingan pertamanya, "Like A Virgin", berkaitan dengan cerita kemunculan blog ini. Seperti yang dijelaskan di paragraf pembuka, ini memang bukan blog pertama saya, tapi lewat tulisan pertama inilah saya mengawali kehidupan "Lelaki Urban". Dan rasanya senang yang didapatkan ternyata tak kalah dengan saat pertama menulis blog di Friendster dulu. lagipula saya juga seorang penggemar Madonna dan "Like A Virgin" merupakan salah satu lagunya yang saya suka. Menggunakan kata "virgin" tidak bermaksud menandakan bahwa saya adalah seseorang yang mengagungkan "virginitas" atau "keperawanan". Tidak! Saya bahkan masih mempertanyakan tentang konsep "keperawanan" itu sendiri.
Konsep "keperawanan" adalah salah satu produk kebudayaan patriakal. merupakan suatu keanehan bagi saya melihat perempuan dihargai hanya lewat bentuk dan keadaan organ tubuhnya semata. Padahal organ yang menunjukkan status keperawanan seorang perempuan, yaitu selaput dara, sangat rentan mengalami kerusakan yang disebabkan tak hanya kegiatan bercinta saja. Selapu dara bisa saja robek akibat kegiatan olahraga ataupun kecelakaan. Tetapi yang ada dipikiran orang-orang hanyalah dugaan negatif yang berujung pada sebuah penilaian moral. Perempuan yang tidak perawan sebelum menikah dianggap amoral. Padahal keperawanan merupakan bagian dari tubuh perempuan. Tubuh perempuan sebagaimana halnya entitas “diri” manusia tentu mendapatkan perlindungan untuk kebebasannya. Perempuan sesungguhnya bebas menentukan otonomi tubuhnya tanpa mendapatkan perlakuan yang diskriminatif.
Bila orang-orang kerap membicarakan tentang “keperawanan”, seharusnya mereka juga tak lupa untuk membicarakan masalah “keperjakaan”. Bukankah gender juga memiliki sifat relasional? Bila perempuan mendapatkan penilaian dirinya lewat selaput dara, laki-laki harusnya juga dikenakan perlakuan serupa. Sayangnya, laki-laki tidak memiliki selaput penis. Jadi tidak dapat diketahui status keperjakaannya. Kalau mereka memiliki selaput penis, pasti selaputnya itu sudah rusak sebelum ia menikah. Dan kerusakan itu mungkin saja terjadi dengan kesadaran penuh sang pemilik, “keperjakaan” hilang oleh tangan kanannya (atau tangan kiri, bila si lelaki kidal).
Lelaki Urban singin' a song: "Like a virgin...Touched for the very first time...Like a virgin..when your heart beats...next to mine"

0 komentar:
Posting Komentar